Minggu, 03 Juli 2011

Move on!!

Entah apa yang aku lakukan di 2 hari terakhir ini. Jumat (1 Juni 2011) sepulang dari Plaza Semanggi kekuatan itu datang. Kekuatan untuk bertindak. Kekuatan untuk melangkah. Kekuatan untuk mengambil keputusan.  Mendengar cerita dari salah satu teman, aku terharu dia mendukungku terlebih lagi dia membantuku di hadapan teman-temannya. Entah bagaimana aku harus berterima kasih kepada dia. Aku tahu dia sebenarnya berada di posisi sulit. Dia tahu tentangku, dia ingin mambantuku dan dia sudah buktikan kepada 2 orang temannya tetapi dia juga tidak bisa menunjukkan di 2 orang temannya yang lain. Allah maha besar, aku merasakan sekali begitu banyak orang yang mendukungku. Mendengar semuanya aku mengambil keputusan untuk pindah kampus. Mungkin ini saatnya, saat yang tepat untuk bertindak setelah aku sempat pasrah dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mungkin ini sebuah petunjuk dari Allah, petunjuk dari doa yang selama ini aku panjatkan.

Malam itu, Allah memberiku kekuatan untuk mengumpulkan barang-barang dan akan aku kembalikan kepada yang bersangkutan. Sambil bercucuran air mata, aku membuka dompet aku mengmbil tiket 21, aku membuka file kemudian aku ambil kertas-kertas, aku buka laci aku ambil barang. Aku menangis, mungkin saat itu segala sesuatu yang mengganjal di pikiranku tertumpah. Besok aku akan ke rumah temanku untuk menitipkan barang itu kepada yang bersangkutan. Aku memang ingin melakukan ini disaat yang bersangkutan ulang tahun. Tetapi Allah memberiku kekuatan di malam itu. Sudah yakin dan aku benar-benar yakin.

Kalau memikirkan keadaan kelas, aku memang terlihat biasa saja tetapi semua juga sudah tahu apa yang terjadi. Aku batin kalau harus bertahan. Jika pindah yang bersangkutan tentu akan senang dan merasa bebas karena tidak ada aku. Tetapi aku kali ini lebih memikirkan diriku dan kebaikanku. Sulit menjelaskan keadaan yang aku alami ketika di dalam kelas. Tetapi aku harus bergerak, memang beras rasanya tetapi lebih berat lagi kalau tidak bergerak.

2 keputusan yang telah aku putuskan malam itu. Terima kasih ya Allah...

Kamis, 23 Juni 2011

Sampai kapan? sampai dimana?

Ya Allah apa aku harus merelakan semuanya, berhenti berharap, berhenti berdoa, berhenti meminta agar hatiku plong tidak ada pikiran apa-apa dan dapat melakukan semuanya dengan apa adanya tanpa beban pikiran yang berat tetapi aku TAKUT menyesal dikemudian hari karena telah menyerah.

Apa aku harus tetap bertahan, tetap memohon, tetap berdoa kepadaMu dan dengan batin yang tertekan ketika aku mengetahui mendengar bahkan melihat sesuatu yang membuatku semakin tertekan itu semua MUNGKIN akan ku petik hasilnya dikemudian hari tetapi masih mungkin.

Selasa, 21 Juni 2011

Nuke Meliansah Puteri

Sebelum lahir kami memang sudah berteman, ya memang sedikit berlebihan tapi itu memang benar karena mamaku dan mama dia sudah berteman. Kami juga bertetanggga, rumah kami hanya berbeda 2 rumah. Aku lahir bulan maret, dia lahir bulan mei di tahun yang sama. Aku tidak begitu ingat pertama kali kami bermain pada saat apa dan dimana. Kami di satu sekolah taman kanak-kanak yang sama, yaitu TK Yasri di daerah Cideng. Mungkin pada saat itu pertemanan kami mulai terjalin disamping kami sebagai seorang tetangga. Satu lagi, di lingkungan rumahku hanya dia yang seumuran denganku selebihnya lebih tua dan lebih muda dari kami.

Kami juga di sekolah dasar yang sama, SDN Cideng 10 pagi. Kami dalam satu tempat pengajian, yaitu pengajian As-sabil mushola dekat tempat tinggal kami yang jaraknya hanya beberapa rumah dari rumahku. Kami berangkat sekolah bersama setiap pagi, itu dimulai sekitar kelas 2 atau 3 aku tidak tahu persisnya kapan karena kelas 1 aku masih diantar oleh nenekku. Dia menyamparku setiap pagi dan kami berangkat bersama ke sekolah, begitu juga dengan pulangnya. Sepulang sekolah tidak begitu saja berpisah, kami kembali bermain bersama. Kebanyakan bermain di rumahku, karena pada saat itu ayah dan mamaku sedang bekerja dan aku sendiri di rumah. Dia yang selalu menemaniku. Banyak sekali hal-hal yang kami lakukan saat bermain, ya aku kadang tertawa kalau mengingat kejailan kami saat bermain. Ketika sore dan salah satu orang tuaku pulang dia juga pulang. Tidak begitu saja pulang, kami bertemu lagi malam untuk mengerjakan pekerjaan rumah bersama, seperti biasa dirumahku. Hampir setiap hari kegiatanku seperti itu.

Tapi kami berpisah saat sekolah menengah pertama, dia pindah ke tangerang bersama orang tuanya. Awalnya dia masih ke sini, rumah yang ditinggali disini disewakan dan dia kesini kerumah uwanya yang rumahnya persis berada disdepan rumah dia. Dan lama-kelamaan dia sudah jarang kesini. Sekali-kali saja kami bertemu dan hanya beberapa kali kami mengadakan reuni bareng dengan yang lain, yang lain yaitu teman kami saat SD.

SMA kami juga sudah jarang berkomunikasi, sempat hilang kontak. Dan aku mendapat kabar kalau dia sudah menjadi penyanyi. Ketika bertemu kami pasti cerita banyak, cerita apa saja yang dialami. Tidak malu-malu kami saling bertukar cerita. Sempat kami liburan ke Sukabumi bersama satu teman kami, kami bertiga.

Awal kuliah dia sempat mengikuti sepupunya yang juga kuliah diuniversitas yang sama denganku dan tinggal di kosan bersama sepupunya. Dia masih menjadi penyanyi pada saat itu dan dia berniat untuk kuliah di universitas yang sama denganku tahun depan. Belum sempat daftar kuliah ternyata dia sudah tidak bekerja, ya dia mencari-cari kerja yang normal. Aku memang tidak setuju kalau dia kembali menjadi penyanyi. Ya pada saat-saat itu kami kembali dekat, berkomunikasi melalui sms, facebook dan pertemuan-pertemuan. Sekarang aku semester 4, Alhamdulillah dia mendapat pekerjaan baru. Kantornya daerah semanggi, dan sekarang dia kembali tinggal disini. Aku kembali mempunyai teman rumah 
Ya Allah jagalah persahabatan kami

Rabu, 15 Juni 2011

Lomba Mading #2

Lomba mading berikutnya yaitu di SMA 78 Jakarta, kali ini saya bersama desta dan bayu. Karna tidak ada orang yang bisa ikut akhirnya kami memilih bayu saja. Tema yang diusung adalah mengenai Pemanasan global. Media yang disediakan adalah satu sterofoam berukuran 1 meter x 1 meter. Timbul pertanyaan bahan yang digunakan dengan tema yang diangkat sedikir tidak masuk akal.

Disini kami kembali menggunakan konsep minimalis, ya memang sangat kurang persiapan dan kurang bahan, kurang ide, kurang orang yang kreatif saya pasrah. Tetapi saya tetap berusaha membuat semenarik mungkin mading ini. Benar saja melihat peserta yang lain menggunakan cat untuk warna dasar di sterofoam, ada yang menggunakan kertas warna warni, kita hanya menggunakan alas karton hitam diatas sterofoam. Kata bu tati, guru pembimbing PMR, jika dilihat dari isinya kita bisa menang, jika dilihat dari tampilannya agak meragukan dan saya juga setuju. Yang terpenting sudah berusaha, dan masa mau menang melulu.

ISi dari mading itu memang sangat saya pikirkan sebelumnya, sangat menarik ya saya mengakuinya tetapi tampilan kali ini kurang dipikirkan. Saat itu teman saya bagus juga ikut lomba, dia lomba puisi. Bagus bukan anggota PMR, disela sela pengumuman bagus, dan ade berinisiatif untuk daftar lomba akting, ya sejenis itu. lebih tepatnya kita memerankan tokoh apa aja diatas panggung dan menceritakan tentang global warming. Sama sekali secara spontan semua, bagus berperan sebagai seorang kakek dan ade sebagai seorang cucu. untuk menunjang penampilan dibuatkan jenggot putih dari sisa bahan mading.

Mereka tampil dan apa yang mereka sajika cukup menarik untuk persiapan yang tidak ada, itu hanya spontanitas semata. Iseng-iseng berhadiah. Selagi menunggu saat itu desta melihat awan dan Subhanallah menyerupai tulisan Allah. benar-benar kejadian yang sangat langka. Menunggu pengumuman saya dan desta melihat-lihat lomba lain, ada lomba pertolongan pertama, dan lain-lain.

Tiba saatnya pengumunman dan lomba mading kali ini tidak mendapat juara, ya saya terima. Tetapi yang mengejutkan adalah lomba akting antara bagus dan ade yang mendapat juara, kalau tidak salah juara harapan 1 atau 2, saya sudah lupa. Tidak apa-apa belum menang saya berbesar hati memenag saya mampunya segitu akan saya coba lagi dilomba lain

Lomba Mading #1

Masih ada hubungannya dengan postingan sebelumnya yaitu Lomba Kartu Ucapan. Semenjak itu saya secara tidak langsung bergabung dengan menjadi anggota PMR, ya secara tidak langsung. Beberapa bulan setelah itu ada pengumuman lagi lomba, kali ini lomba majalah dinding (mading). Memang saya sempat menjadi anggota IBS (Ilmu Budaya Siswa) ekskul di sekolah saya yang menangani mading sekolah bersama teman saya yang bernama desta. Saya kembali dipercaya untuk ikut lomba tersebut. Lomba kali ini berkelompok, ya jelas saja tidak mungkin mading dikerjakan seorang diri.

Saya bersama desta dan temannya desta, firda. Desta memang orangnya setipe dengan saya, kami cukup sehati dengan selera. Firda tidak begitu, tetapi saya enjoy aja. Lomba mading yang akan diselenggarakan di SMA 68 Jakarta. Tema kali itu kalau tidak slah mengenai teknologi, persisnya saya lupa.

Persiapan kali ini tidak begitu matang, semua secara spontan dan dadakan serta alakadarnya. Tiba hari H, kami bertiga duduk di depan SMA 68 menunggu teman kami dan anggota PMR lain yang belum datang dan yang sedang registrasi peserta. Oh iya desta dan firda juga bukan anggota PMR, sama seperti saya bisa dibilang pemain cabutan hehehe. Disela-sela menunggu kami mendiskusikan apa yang dibuat, saya mencetuskan judul mading "Dunia dikuasai teknologi" dan semua setuju, untuk lebih menarik saya mempergunakan bahasa perancis di judul itu. Saat itu saya segera sms teman saya jose menanyakan bahasa perancis dan tadaaaa "Le monde a qonquis par la technologie" judul yang sangat menarik. Sebelumnya juga kami sudah membawa materi yang akan ditulis, firda membawa koran yang ada berita tentang teknologi.

Lombapun dimulai, kami saling bekerjasama membuat mading tersebut, saya melihat sekeliling banyak juga yang menarik dari tampilan, sempat berfikir pesimis karena melihat yang lain menggunakan pernak-pernik yang wah di mading mereka. secara tampilan mading kami tidak terlalu buruk, ya kami menamai konsep minimalis di mading kami. Dengan beralas karton hitam ukuran A3 kami membuat informasi-imformasi mengenai teknologi yang tidak jauh dari judul kami.

Lomba kali ini tidak langsung diumumkan pemenangnya, karena masih ada lomba lain di hari yang berbeda. Saya lupa entah itu keesokan harinya atau lusanya, pada saat itu saya sedang bersama mama dan teman saya titi mengabari jika hari itu pengumuman dan mengajak saya datang. Bisa saja saya datang tetapi terlalu mepet waktunya. titi terus mengabari saya, dan ternyata Alhamdulillah Juara 1 lagi. Saya senang, sangat senang mendengar kabar itu. "Juara 1 lomba mading wira SMA 68 Jakarta"

Disekolah saya dengan bangga memegang piala itu dan menyumbangkan kepada sekolah piala itu. Madingnya sempat dikirim kembali kesekolah. Ah tapi sayang saya sudah tidak menyimpan foto-fotonya

ShareThis